Surabaya, Suaragenerasibangsa – Upaya penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TN-BTS) mendapat tambahan kekuatan dari Pemerintah Kota Surabaya. Melalui Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP), Pemkot Surabaya mengirimkan personel beserta armada untuk bergabung dalam operasi gabungan yang dipimpin BPBD Jawa Timur.
Lima personel DPKP Surabaya diberangkatkan pada Minggu (9/8/2026) dengan dukungan satu unit fire truck berkapasitas 3.000 liter dan satu mobil ranger. Selama di lokasi, tim membantu proses pemadaman di sejumlah titik bersama Manggala Agni, BPBD, pemadam kebakaran dari berbagai daerah, serta relawan.
Kepala DPKP Surabaya, Laksita Rini Sevriani, mengatakan kehadiran personelnya merupakan tindak lanjut atas permintaan bantuan yang disampaikan BPBD Jawa Timur kepada Pemerintah Kota Surabaya.
"Kami menerima permintaan untuk memperkuat operasi pemadaman di kawasan Bromo. Setelah berkoordinasi, kami langsung menyiapkan personel, armada, dan peralatan agar bisa segera bergabung dengan tim gabungan di lapangan," kata Laksita.
Ia menjelaskan, kebakaran yang terjadi sejak awal Agustus membutuhkan penanganan cepat karena api terus bergerak ke sejumlah kawasan hutan. Oleh sebab itu, seluruh unsur yang terlibat saling berbagi peran sesuai kondisi di lapangan.
"Penanganan dilakukan secara terpadu. Ada tim yang fokus pada pemadaman dari darat, sementara titik api yang tidak dapat dijangkau kendaraan ditangani melalui water bombing menggunakan helikopter. Semua bergerak sesuai strategi yang telah disepakati bersama," ujarnya.
Menurut Laksita, medan di kawasan TN-BTS menjadi tantangan tersendiri. Kontur pegunungan, lereng curam, hingga lautan pasir membuat mobilitas personel maupun armada tidak selalu berjalan mudah.
"Kami harus menyesuaikan metode pemadaman dengan kondisi medan. Tidak semua lokasi bisa dimasuki kendaraan, sehingga personel harus berjalan kaki sambil membawa peralatan menuju titik api," jelasnya.
Untuk mendukung operasi tersebut, DPKP Surabaya membawa dua unit Advanced Firefighting Technology (AFT) Backpack. Peralatan pemadam portabel itu dimanfaatkan untuk menjangkau titik api yang berada di area dengan akses terbatas.
"Alat ini sangat membantu karena ringan dibawa dan memiliki tekanan semprot yang tinggi. Ketika menemukan bara atau api di sela-sela vegetasi, personel bisa langsung melakukan pemadaman tanpa harus menunggu suplai dari kendaraan," terang Laksita.
Ia menilai keberhasilan penanganan karhutla tidak hanya bergantung pada jumlah personel, tetapi juga pada sinergi antarlembaga. Menurutnya, kolaborasi menjadi faktor penting agar penyebaran api dapat segera dikendalikan.
"Bencana seperti ini tidak mengenal batas wilayah administrasi. Karena itu, ketika ada daerah yang membutuhkan bantuan, kami siap memberikan dukungan. Semangat gotong royong antardaerah menjadi kekuatan utama dalam penanganan karhutla," tegasnya.
Meski menghadapi berbagai kendala di lapangan, termasuk kendaraan yang sempat terjebak di kawasan lautan pasir, seluruh personel DPKP Surabaya mampu menyelesaikan tugas dengan baik.
"Syukur alhamdulillah seluruh personel kembali dalam keadaan sehat dan selamat. Itu menjadi hal yang paling kami syukuri setelah menyelesaikan operasi pemadaman bersama seluruh unsur yang terlibat," ungkap Laksita.
Setelah api di sejumlah titik berhasil dikendalikan, tim DPKP Surabaya kembali ke Kota Surabaya pada Selasa (11/8/2026). Pemerintah Kota Surabaya berharap kolaborasi lintas daerah seperti ini terus diperkuat sebagai bagian dari respons cepat menghadapi bencana di Jawa Timur. (Septyan)
