Forum tersebut diikuti personel Polri dan santri secara langsung serta terhubung dengan jajaran kepolisian dari berbagai daerah melalui jaringan virtual. Sebanyak 700 peserta hadir di lokasi, sedangkan 41.449 peserta lainnya mengikuti kegiatan secara daring.
Pertemuan itu menjadi momentum bagi Kapolri untuk menyampaikan pentingnya menjaga hubungan antarelemen bangsa di tengah kehidupan masyarakat yang memiliki latar belakang beragam.
Indonesia, kata Kapolri, dibangun dari berbagai perbedaan. Karena itu, keberagaman membutuhkan ruang untuk dikelola secara bijak agar tidak berubah menjadi persoalan yang justru memicu konflik di tengah masyarakat.
“Di tengah berbagai tantangan global, kita harus menjaga persatuan dan menjadikan keberagaman sebagai kekuatan bangsa,” ujar Kapolri.
Pesan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa menjaga persatuan bukan hanya menjadi tugas satu kelompok. Setiap unsur masyarakat memiliki peran dalam mempertahankan kebersamaan dan menciptakan kehidupan sosial yang harmonis.
Dalam kesempatan itu, Kapolri juga menghubungkan upaya menjaga persatuan dengan hubungan antara ulama dan umara. Menurutnya, keduanya memiliki catatan panjang dalam perjalanan bangsa, termasuk dalam perjuangan merebut serta mempertahankan kemerdekaan.
Semangat kebersamaan tersebut dinilai tetap relevan untuk diterapkan pada kondisi saat ini. Ulama dan umara diharapkan dapat terus menjalankan perannya masing-masing sekaligus membangun komunikasi untuk kepentingan masyarakat dan negara.
Kapolri menyebut ulama memiliki posisi penting dalam memberikan tuntunan kepada masyarakat. Nasihat, doa dan arahan ulama disebut menjadi bagian yang dapat memberikan pegangan dalam menghadapi berbagai dinamika kehidupan bangsa.
Di sisi lain, Polri menjalankan tanggung jawab menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat serta memberikan perlindungan dan pengayoman. Situasi yang aman menjadi salah satu unsur pendukung agar masyarakat dapat menjalankan aktivitasnya dan pembangunan dapat berlangsung.
Karena itu, Kapolri melihat hubungan antara ulama dan umara bukan sekadar hubungan kelembagaan. Ada ruang kebersamaan yang dapat terus dibangun untuk menjaga kehidupan masyarakat tetap berada dalam suasana persatuan.
Kegiatan Ngaji Kebangsaan tersebut juga menjadi kesempatan bagi jajaran Polri untuk mendapatkan nasihat dan doa dari ulama.
Kapolri menyampaikan apresiasi kepada Gus Baha dan pengurus Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an LP3IA yang telah memberikan kesempatan kepada keluarga besar Polri untuk hadir dan mengikuti kegiatan tersebut.
Ia juga menyinggung tugas anggota Polri yang memiliki berbagai tantangan dan risiko. Dalam konteks tersebut, dukungan moral dan doa dari para ulama dinilai memiliki arti bagi personel yang tengah menjalankan tugas di tengah masyarakat.
“Saya memahami bahwa tugas anggota Polri penuh risiko, sehingga kita membutuhkan doa dan bimbingan para ulama,” ujar Kapolri.
Kapolri bahkan menitipkan personel Polri kepada para ulama agar diberikan keselamatan, kekuatan dan kemudahan ketika menjalankan tugas pelayanan kepada masyarakat.
Di sisi lain, kehadiran ratusan santri dan personel kepolisian dalam satu forum memperlihatkan ruang interaksi yang dibangun melalui kegiatan tersebut.
Kegiatan tidak berhenti pada peserta yang berada di Rembang. Puluhan ribu personel yang mengikuti secara virtual turut menjadi bagian dari forum kebangsaan yang membawa pesan persatuan dari lingkungan pesantren ke berbagai daerah.
Dalam pandangan Kapolri, keberagaman perlu ditempatkan sebagai bagian dari kekuatan Indonesia. Perbedaan yang ada di tengah masyarakat bukan untuk dihapuskan, tetapi dikelola agar tidak berkembang menjadi konflik yang merugikan kehidupan bersama.
Karena itu, menjaga persatuan membutuhkan keterlibatan berbagai unsur, termasuk masyarakat, ulama, santri dan aparat negara.
Kapolri berharap hubungan antara ulama dan umara terus terpelihara. Sinergi tersebut dinilai memiliki akar sejarah sekaligus relevansi dalam menghadapi tantangan bangsa pada masa kini.
“Mari umara dan ulama terus bergandengan tangan untuk menjaga persatuan, merawat NKRI, dan mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur,” pungkasnya.
Ngaji Kebangsaan di Rembang pun menjadi ruang untuk mempertemukan pesantren, kepolisian dan masyarakat dalam satu semangat kebersamaan.
Dari forum tersebut, pesan tentang persatuan kembali disampaikan dengan menempatkan keberagaman sebagai bagian dari kehidupan bangsa yang perlu dirawat.
Kebersamaan antara ulama dan umara juga diharapkan terus berkembang sebagai bagian dari upaya menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Dengan demikian, kegiatan di Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an LP3IA tidak hanya menjadi forum pengajian, tetapi juga menjadi ruang penguatan komunikasi antara Polri dan kalangan pesantren sekaligus penyampaian pesan kebangsaan kepada masyarakat luas. (Septyan)
