Sejumlah bagian drainase di sepanjang Gang Bingkilan menjadi sasaran kerja bakti. Sedimen yang membuat dasar saluran semakin dangkal dikeruk menggunakan cangkul dan sekop.
Sampah yang ditemukan di sepanjang saluran juga diangkat. Material yang terkumpul dimasukkan ke dalam karung sebelum dibawa keluar dari area drainase.
Tak hanya itu, rumput liar yang tumbuh di sekitar saluran dipangkas. Pembersihan dilakukan secara menyeluruh agar kondisi drainase lebih mudah dipantau sekaligus tidak terganggu oleh tumbuhan liar.
Bagi warga, kondisi saluran air bukan persoalan kecil. Drainase yang tidak terawat dapat membuat aliran air terhambat dan berpotensi menimbulkan genangan ketika hujan mengguyur kawasan permukiman.
Karena itu, Gotku Resik diarahkan sebagai langkah pencegahan. Warga tidak menunggu munculnya persoalan, tetapi memilih melakukan pembersihan lebih awal.
Sekretaris BPBD Kota Probolinggo Dedy Ristantama mengatakan langkah tersebut sesuai dengan semangat mitigasi yang terus didorong BPBD. Ia menyampaikan bahwa Kepala Pelaksana BPBD Kota Probolinggo Boedi Harjanto menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam pencegahan bencana.
“Pencegahan harus dimulai sebelum terjadi kejadian. Drainase yang bersih dan terawat menjadi salah satu upaya yang dapat dilakukan masyarakat untuk mengurangi risiko genangan ketika hujan,” kata Dedy.
Menurutnya, pekerjaan membersihkan saluran mungkin terlihat sederhana. Namun, jika dilakukan secara rutin dan melibatkan masyarakat, manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh lingkungan sekitar.
Dedy menyebut sedimentasi yang menumpuk secara perlahan dapat mengurangi kapasitas saluran. Demikian pula sampah yang masuk ke drainase dapat menjadi penyumbat apabila tidak segera dibersihkan.
Karena itu, BPBD mendorong masyarakat untuk tidak hanya memperhatikan drainase ketika musim hujan tiba. Kondisi saluran sebaiknya diperiksa secara berkala agar permasalahan dapat diketahui sejak awal.
“Kami tidak ingin masyarakat hanya mengandalkan petugas. Masyarakat sendiri memiliki peran besar dalam menjaga lingkungannya. Kalau ada saluran tersumbat, segera dibersihkan atau dikoordinasikan dengan pihak terkait,” ujar Dedy.
Dedy menambahkan, kehadiran BPBD dalam kegiatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari edukasi kebencanaan. Masyarakat diajak memahami bahwa pengurangan risiko bencana dapat dilakukan melalui kebiasaan sehari-hari.
Selain BPBD, unsur TNI ikut mengambil bagian dalam kerja bakti. Personel Koramil 0820/01 Kanigaran membantu warga mengeruk sedimentasi serta membersihkan bagian saluran yang dipenuhi material.
Danramil 0820/01 Kanigaran Mayor Czi Bagus Handoko mengatakan kegiatan tersebut menjadi bentuk nyata kemanunggalan TNI dengan masyarakat.
“Gotong royong adalah kekuatan kita. Ketika warga dan aparat turun bersama, pekerjaan yang berkaitan dengan kepentingan lingkungan bisa dilakukan lebih cepat dan ringan,” ujar Bagus.
Menurut Bagus, persoalan kebersihan lingkungan tidak mengenal batas tugas dan kewenangan. Ketika kondisi lingkungan membutuhkan perhatian, seluruh unsur dapat mengambil peran sesuai kapasitas masing-masing.
Ia juga meminta masyarakat tetap menjaga komunikasi dengan aparat kewilayahan. Kondisi lingkungan yang membutuhkan penanganan dapat segera disampaikan sehingga koordinasi bisa dilakukan.
“Kami berharap kegiatan seperti ini terus dijaga. Bukan hanya ketika ada kerja bakti, tetapi menjadi kebiasaan untuk melihat dan menjaga lingkungan masing-masing,” katanya.
Sementara itu, Lurah Kebonsari Wetan Ronny Kurniawan menyebut partisipasi warga menjadi kekuatan utama dalam kegiatan Gotku Resik.
Menurut Ronny, pemerintah kelurahan tidak dapat bekerja sendiri dalam menjaga kebersihan lingkungan. Warga yang tinggal di sekitar saluran justru memiliki peran paling dekat dalam melakukan pengawasan sehari-hari.
“Yang paling penting adalah kesadaran bersama. Pemerintah bisa memfasilitasi, aparat bisa membantu, tetapi warga yang setiap hari berada di lingkungan ini yang akan menentukan apakah kebersihannya bisa dipertahankan,” ujar Ronny.
Ia mengapresiasi keterlibatan BPBD, Koramil, relawan dan masyarakat. Menurutnya, kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa persoalan lingkungan dapat menjadi ruang untuk memperkuat kebersamaan.
Ronny juga mengingatkan warga agar tidak membuang sampah ke saluran air. Kebiasaan tersebut dapat menghilangkan manfaat pembersihan apabila dilakukan kembali setelah kerja bakti.
“Setelah bersih, mari sama-sama dijaga. Jangan sampai saluran kembali penuh sampah. Kalau ada persoalan, segera sampaikan agar bisa dicarikan solusi bersama,” tuturnya.
Di lapangan, Relawan Formalis juga ikut membantu proses pembersihan. Mereka bergabung dengan warga dan personel gabungan sejak kegiatan dimulai.
Kerja bersama tersebut membuat proses pembersihan berlangsung dalam suasana penuh kebersamaan. Warga terlihat aktif mengambil bagian tanpa menunggu instruksi dari petugas.
Kegiatan itu sekaligus menjadi implementasi semangat Kota Probolinggo Bersolek. Lingkungan yang bersih tidak hanya diwujudkan melalui penataan kawasan, tetapi juga melalui kepedulian terhadap fasilitas dasar seperti drainase.
Gotku Resik juga memperlihatkan bahwa mitigasi bencana dapat dilakukan dari lingkungan terkecil. Sebelum berbicara mengenai penanganan ketika terjadi bencana, masyarakat terlebih dahulu diajak mengurangi faktor yang dapat memperbesar risiko.
Drainase yang telah dibersihkan diharapkan mampu kembali menjalankan fungsinya secara lebih baik. Namun, kondisi tersebut membutuhkan pemeliharaan secara berkelanjutan agar tidak kembali dipenuhi sedimentasi dan sampah.
BPBD bersama unsur kewilayahan pun mendorong agar kepedulian tersebut menjadi kebiasaan. Pemeriksaan saluran, pengelolaan sampah dan kerja bakti rutin dapat menjadi bagian dari kesiapsiagaan masyarakat.
Bagi warga Kebonsari Wetan, aksi di Gang Bingkilan menjadi pengingat bahwa menjaga lingkungan tidak selalu membutuhkan langkah besar. Kepedulian bisa dimulai dengan mengambil sampah, mengeruk lumpur dan memastikan air memiliki jalur untuk mengalir.
Di saat yang sama, kegiatan tersebut memperkuat hubungan antara warga dan aparat. Interaksi langsung membuat persoalan lingkungan dapat dibicarakan sekaligus dicarikan langkah penanganannya.
Semangat inilah yang diharapkan terus tumbuh setelah Gotku Resik berakhir. Sebab, lingkungan yang bersih tidak ditentukan oleh satu kali kerja bakti, melainkan oleh kebiasaan yang dilakukan secara terus-menerus.
Dari Gang Bingkilan, pesan pencegahan itu disampaikan secara sederhana: saluran air harus dijaga sebelum tersumbat, lingkungan harus dirawat sebelum muncul persoalan, dan gotong royong harus dipelihara sebelum kepedulian masyarakat memudar.
Dengan keterlibatan BPBD, TNI, pemerintah kelurahan, relawan dan warga, kegiatan Gotku Resik diharapkan menjadi bagian dari gerakan bersama menjaga Kebonsari Wetan tetap bersih, nyaman sekaligus lebih siap menghadapi potensi genangan saat hujan.
(Septyan)
